Sabtu, 26 Desember 2009

Pasuan TNI Resmi Ke Libanon

Pasukan TNI segera bergabung dengan pasukan UNIFIL PBB di Libanon. Mereka berangkat akhir September. Pasukan Mekanis Garuda menunggu pemberangkatan ke Libanon.Teka-teki soal pengiriman pasukan Indonesia untuk bergabung dengan pasukan pemelihara perdamaian PBB di Libanon Selatan terjawab sudah. Pasukan merah-putih beranggotakan 1.000 tentara dijadwalkan berangkat 28 September. PBB telah secara resmi meminta Indonesia mengirim pasukannya di tengah hadangan keberatan Israel.

Sebuah advance team akan berangkat 20 September untuk mempersiapkan keberangkatan seluruh anggota pasukan TNI yang telah menjalani pembekalan di Markas Divisi-I Kostrad, Cilodong, Bogor. Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Moh. Sunarto mengatakan tim pendahulu beranggotakan tujuh orang. Mereka menyiapkan markas pasukan Indonesia di Libanon.

Menurut Menlu Nur Hassan Wirayudha PBB dan sejumlah negara pendukung bahkan menawarkan armada untuk mengangkut pasukan Indonesia yang juga akan membawa persenjataan berat. “Kita sudah terima surat dari Departemen Pemeliharaan Perdamaian PBB yang menerima tawaran Indonesia. Jadi tidak ada masalah lagi soal pengiriman pasukan Indonesia,” kata Hassan sebagaimana dikutip oleh koresponden Media Indonesia di Bali (3/9).

DPR juga telah memberikan kata sepakat bagi pengiriman misi perdamaian Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan konsultasi dengan DPR (28/8) tentang kesepakatan pemberangkatan pasukan Indonesia ke Libanon. Pengiriman pasukan tertunda lantaran adanya keberatan dari Israel. Israel tidak hanya keberatan pada pasukan Indonesia, tetapi juga Malaysia dan Bangladesh yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara Yahudi tersebut.

Pasukan Indonesia bertugas di sana di bawah bendera Pasukan Sementara PBB di Libanon (United Nation Interim Forces in Libanon-UNIFIL). Para petinggi Indonesia, sipil dan militer, menegaskan bahwa pasukan Indonesia tidak bertugas melucuti Hizbullah, tetapi untuk menjaga perdamaian di Libanon. “Bukan menggunakan kekuatan dengan paksa untuk menghentikan peperangan,” kata Presiden Susilo.
Kata Ketua Komisi I DPR, Theo Sambuaga: “Kita tidak akan melakukan perlucutan senjata terhadap Hizbullah.”

Sambil menunggu pemberangkatan, Batalyon Mekanis Garuda yang beranggotan 1.000 prajurit, terus melakukan latihan pemantapan, dari 29 Agustus sampai 11 September. Di dalam pasukan tersebut juga bergabung putra Presiden Susilo, Letnan Satu Agus Harimurti Yudhoyono. Soal keikutsertaan Agus sempat menjadi polemik.

Pengamat militer Rizal Dharmaputera mencemaskan kehadiran Agus rentan jadi target politik oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi. “Sebagai putra presiden, posisi Agus sangat strategis. Kita harus waspada,” kata Rizal seperti dikutip Indo Pos (4/9). Rizal mengingatkan perlunya antisipasi bilamana ada red alert (tanda bahaya) di lapangan. Namun pihak Mabes TNI menegaskan tidak ada pengamanan khusus bagi Agus selama bertugas di Libanon.

Kasum TNI, Mayjen Endang Suwarya, pada pembukaan latihan Batalyon Mekanis Garuda (29/8), mengatakan setiap personil harus membekali diri dengan baik karena medan yang dihadapi cukup berat, sangat berbeda dengan kondisi alam di Indonesia. Kultur masyarakat Libanon juga harus menjadi fokus perhatian. Mayjen Endang menilai semua peralatan yang dibawa pasukan tersebut sudah cukup memadai. SB,SH (Berita Indonesia 21)


Mayjen Rasyid Danjen Baru Kopassus
Komandan Jenderal Kopassus berpindah dari Mayjen Syaiful Rizal ke Mayjen Rasyid Qurnuen Aqquary. Mayjen Syaiful akan menjabat Pangdam Udayana. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Djoko Santoso memimpin upacara serahterima jabatan Syaiful bersama 79 perwira TNI-AD lainnya di Markas Komando Kopassus Cijantung Jakarta Timur, Jumat, (1/9).

Selama memimpin Kopassus (2005-2006) Mayjen Syaiful telah banyak melakukan perubahan di kesatuannya. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan itu juga mengasah kemampuan prajurit dengan latihan-latihan gabungan dengan satuan khusus negara lain. Mayjen Rasyid, lulusan AKABRI 1975, seangkatan dengan Syaiful. Rasyid sebelumnya menjabat Pangdiv-1 Kostrad, masuk Kopassus sejak 1979, menjadi Danton Group-1 Kopassandha. Tahun 1983 menjadi Wadan Karsa Group-4 Kopassandha.

Pria kelahiran Bandung tahun 1953 itu kemudian ditunjuk menjadi Dansatlat Walpri Paswalpres (1983-1987). Rasyid kembali ke Kopassus tahun 1987, menjadi Danden-1 Yon-21 Group-2. Ketika berpangkat Letkol, Rasyid menjadi Aspers Kopassus. Tanggal 1 September 2006, dia dipromosi sebagai Komandan Jenderal Kopassus. SB,SH (Berita Indonesia 21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar